Jumat, 09 Oktober 2009

ETIKA BISNIS : PENTINGKAH?!

Menurut Artikel yang dimuat pada tabloid Outlet No 13 / 24 April - 08 Mei 2008 oleh Riri Satria menyimpulkan bahwa etika bisnis Kesimpulannya, etika bisnis sangat tergantung kepada itikad baik, dan hanya Anda sendirilah yang mengetahui itikad baik ini, orang lain susah atau bahkan tidak akan tahu sama sekali, bahkan jika Anda melanggar pun, orang lain tidak mudah untuk mengetahuinya.

Kasus

Hal tersebut berdasarkan kasus – kasus seperti Anda menjual handset dengan mutu rendah atau cacat, tetapi dengan suatu cara jitu, Anda berhasil menyembunyikan masalah pada handset itu sehingga secara kasat mata tidak diketahui oleh pemakai, kecuali setelah menggunakannya selama beberapa waktu. Kemudian Anda membuat aturan, bahwa barang yang telah dijual tidak bisa ditukar / dikembalikan lagi dan barang itu tanpa garansi. Lalu ada orang yang membeli handset tersebut, dan tentu saja sebagai orang awam, dia tidak bisa melihat masalah atau kerusakan pada handset tersebut, dan transaksi pun terjadi. Tidak lupa Anda mengingatkan kepada dia bahwa barang yang telah dijual tidak bisa ditukar / dikembalikan lagi.

Setelah beberapa waktu, ternyata dia komplain kepada Anda bahwa ada masalah pada handset yang dia beli dan dia menuntut Anda untuk menggantinya. Lalu Anda berdalih, bahwa waktu terjadi transaksi dulu kan barangnya bagus-bagus saja, tidak ada masalah, dan si pembeli tidak komplain apa-apa. Lalu dengan dalih bahwa barang yang telah dijual tidak bisa ditukar / dikembalikan lagi, Anda menolak untuk mengganti handset tersebut, apalagi memang tidak ada garansi.

Salahkah Anda ? Secara hukum bisa jadi Anda benar. Tanpa menyewa pengacara handal pun, rasanya sudah bisa ditebak bahwa Anda akan menang berdebat dengan si pembeli tadi. Tetapi dari sisi pandang etika bisnis, Anda jelas-jelas salah, di mana Anda sebenarnya sudah mengetahui bahwa barang tersebut ada cacatnya atau ada masalahnya, tetapi Anda sembunyikan atau tidak memberitahu si pembeli. Artinya, dari awal Anda sudah tidak memiliki itikad baik dalam berdagang.

Pendapat saya sebagai pembaca artikel ini yaitu terkadang orang seringkali berprinsip what is legal is ethical. Seperti kasus di atas tentu saja mereka berprinsip selama itu tidak melanggar hukum ya sah – sah saja dilakukan. Padahal tentu saja hal tersebut merugikan orang. Memang para konsumen terkadang kurang teliti dalam membeli suatu barang, tetapi kita sebagai pebisnis tentunya dapat mengingatkan apabila barang itu cacat atau apapun. Dengan begitu dapat menjalin hubungan baik dengan konsumen, dan yang pasti apabila konsumen merasa nyaman, mereka akan kembali lagi pada kita sebagai pelanggan tetap. Apa salahnya apabila kita menerapkan etika berbisnis yang baik. Jadi, kesimpulannya apa yang legal belum tentu etis.

Sumber www.ririsatria.net/2008/10/07/etika-bisnis pentingkah/+artikel+etika+bisnis&cd=17&hl=id&ct=clnk&gl=id

0 komentar:

Template by : kendhin x-template.blogspot.com